Pelajaran MengarangAnak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir meny การแปล - Pelajaran MengarangAnak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir meny ไทย วิธีการพูด

Pelajaran MengarangAnak-anak kelas

Pelajaran Mengarang
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”. Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.
Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.
Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.
***

Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.
“Mama, apakah Sandra punya Papa?”
“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.
Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.
Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.
“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.
“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.
***
Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.
Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”
Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.
“Mama kerja apa, sih?”
Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.
Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”
Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …
Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.
DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00
Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.
***
Empat puluh menit lewat sudah.
“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
Ia juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.
Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.
Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur…

Palmerah, 30 November 1991
*) Dimuat di harian Kompas, 5 Januari 1992. Terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1993.
0/5000
จาก: -
เป็น: -
ผลลัพธ์ (ไทย) 1: [สำเนา]
คัดลอก!
Pelajaran MengarangAnak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”. Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.*** Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.“Mama, apakah Sandra punya Papa?”“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.“Anak siapa itu?”“Marti.”“Bapaknya?”“Mana aku tahu!”Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.***Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.“Mama kerja apa, sih?”Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”“Seperti Mama?”“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.DITUNGGU DI MANDARINKAMAR: 505, PKL 20.00Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.***Empat puluh menit lewat sudah.“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
Ia juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.
Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.
Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur…

Palmerah, 30 November 1991
*) Dimuat di harian Kompas, 5 Januari 1992. Terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1993.
การแปล กรุณารอสักครู่..
ผลลัพธ์ (ไทย) 2:[สำเนา]
คัดลอก!
บทเรียนการเขียน
การเขียนของเด็กชั้นประถมศึกษาปีที่ห้าที่มีหัวเกือบสัมผัสตาราง แม่ Tati ครูมีสามชื่อที่เขียนบนกระดานไวท์บอร์ด ชื่อแรก "เรามีครอบครัวมีความสุข" ชื่อที่สอง "วันหยุดบ้านยาย" สามชื่อ "นาง".
แม่คุรุ Tati มองเด็กที่น่ารักที่เขียนกับขมวดคิ้ว แรงเสียดทานเสียงดีบนกระดาษปากกา เด็กที่ถูกจมลงไปในโลกของเขาคิดว่าครู Tati จากด้านหลังของเขาเป็นแว่นหนาครู Tati มองหวาน 40 ลูกซึ่งในอนาคตยังคงยาวที่ไม่ทราบว่าในอนาคตจะได้สัมผัสกับสิ่งที่ชนิดของโชคชะตา.
สิบนาทีผ่าน แต่แซนดร้า, 10 ปียังไม่ได้เขียนคำในกระดาษ เขามองออกไปนอกหน้าต่าง มีสาขาที่มีการสั่นสะเทือนในลมสูง เขาต้องการที่จะวิ่งออกจากห้องเรียนออกจากความเป็นจริงที่กำลังเล่นอยู่ในหัวของเขา ความจริงก็ถูกบังคับให้ต้องจำเพราะครูบอกให้เขาคิดเกี่ยวกับ Tati "เรามีครอบครัวมีความสุข", "วันหยุดบ้านยาย", "แม่" แซนดร้ามองที่ครู Tati กับความเกลียดชัง.
เมื่อใดก็ตามที่มันถึงเวลาที่เขียนบทเรียนซานดร้ามักจะรู้สึกว่าปัญหาใหญ่เพราะเขาได้ประดิษฐ์จริง เขาไม่สามารถบอกได้ว่ามันเป็นเหมือนเด็กคนอื่น ๆ และเสนอชื่อแม่ Tati ครูเด็กที่อาศัยอยู่ในระดับนี้เพื่อเขียนความจริงที่ว่าพวกเขากำลังประสบ แต่ไม่ได้แซนดร้า, แซนดร้ามีการประดิษฐ์ แซนดร้าและตอนนี้มีการเลือกที่ไม่น่าพอใจ.
เมื่อคิดเกี่ยวกับ "ครอบครัวของเรามีความสุข" แซนดร้าเพิ่งได้รับภาพของบ้านที่ล้มกัน ขวดและกระป๋องเครื่องดื่มที่ว่างเปล่าเกลื่อนบนโต๊ะบนชั้นแม้จะขึ้นไปด้านบนของเตียง เบียร์รั่วไหลสาดบนที่นอนที่ spreinya ลากที่ไหนสักแห่ง หมอนอิงได้รับการสวมถุงมือ ประตูจะไม่ปิดและจำนวนของคนที่ต่อเนื่องการนอนกรนแม้ในขณะที่แซนดร้ากลับมาจากโรงเรียน.
"ผ่านกลับไอ้ไม่รบกวนแขกมาม่า" เสียงในใจของเขาที่ต้องการที่จะลืม. กล่าวว่า
*** สิบห้านาที ได้ผ่านการ แซนดร้าไม่ได้รู้ว่าสิ่งที่ dibayangkanya เกี่ยวกับครอบครัวมีความสุข. "แม่ถ้าแซนดร้ามีพ่อ?" "แน่นอนมันมีบุตรของซาตาน! แต่ก็ไม่ชัดเจนใคร! และถ้ามันไม่จำเป็นต้องล้างที่เขาอยากจะเป็นพ่อของคุณ! เห็นได้ชัด? เรียนรู้ที่จะอยู่ได้โดยปราศจากพ่อ! Taik แมวกับพ่อ! " แซนดร้าไม่ต้องมาทำความสะอาด? ไม่มีเขาในการประดิษฐ์ แต่เขามีความคิดเกี่ยวกับสิ่งที่คุ้มค่าการเขียนไม่มี. ยี่สิบนาทีผ่านไป ครูแม่ Tati เดินไปเดินมาอยู่หน้าชั้นเรียน แซนดร้าพยายามที่จะคิดเกี่ยวกับสิ่งที่คล้ายกับ "วันหยุดบ้านยาย" และใส่ลงไปในจิตใจของเขาเป็นภาพของผู้หญิงคนหนึ่งที่ได้รับการสวมใส่กระจกล่วงหน้า ผู้หญิงที่มีใบหน้าที่เต็มไปด้วยริ้วรอยที่ทำให้เธอขึ้นกับกวาดของสีที่มีความหนาอย่างสมบูรณ์ สีแดงเป็นหนามากที่แก้ม สีดำมีความหนามากบนหน้าผากของเขา และมันเป็นกลิ่นหอมที่ทำให้มึนเมามากแซนดร้า. "ทำจุกจิกบุตรของซาตาน! หลังจากนั้นคุณกับฉันไปสถานที่ของฉันของการทำงาน แต่ระวังฮะ? คุณไม่จำเป็นต้องที่จะบอกสิ่งที่คุณเห็นในทุกคนเข้าใจ? มองออกไป! " ผู้หญิงคนแก่และน่ารำคาญ แซนดร้าไม่เคยรู้ว่าเขาเป็นใคร แม่ของเธอถูกเรียกแม่ของเธอ แต่ทุกคนได้ยินเขาเรียก Mami เกินไป เธอไม่มาก? แซนดร้าแม่ของเขาที่มักจะมอบความไว้วางใจ Mami เมื่อออกจากเมืองสำหรับวันที่ใดที่หนึ่ง. ในการทำงานของเธอ แต่มืดซานดร้าเห็นผู้ใหญ่หลายคนช้อนจนเหนียว แซนดร้ายังได้ยินเสียงเพลงดัง แต่ Mami เป็นสิ่งต้องห้ามในการชม. "เด็กที่มันเป็น?" "Marti." "พ่อ?" "นรกถ้าฉันรู้!" แซนดร้าจนถึงขณะนี้ไม่เข้าใจ ทำไมถึงมีจำนวนของผู้หญิงที่ห้องนั่งเล่นของกระจกที่จะดูจำนวนคนชี้กำหนดให้พวกเขา. "เด็กชายตัวเล็ก ๆ นำมาจริงๆนี่หรือไม่?" "นี่คือตัวแทน Marti ฉันไม่อาจปล่อยให้เขาอยู่คนเดียวที่บ้าน คนข่มขืนได้รำคาญคุณในภายหลัง. " แซนดร้าก็ยังคงมองออกไปนอกหน้าต่าง มีท้องฟ้าสีฟ้าออกมี นกที่มีปีกที่สง่างาม. *** สามสิบนาทีผ่านไปโดยไม่ได้รับอนุญาต แซนดร้าพยายามที่จะคิดว่า "แม่" ไม่ว่าเธอจะเขียนเกี่ยวกับแม่ของเธอ? แซนดร้าเห็นหญิงสาวสวย ผู้หญิงคนหนึ่งที่มักจะสูบบุหรี่มักจะขึ้นปลายซึ่งถ้ากินมักจะสวมใส่มือและขาขวามักจะขึ้นเหนือเก้าอี้. เธอเป็นแม่ของฉัน? เขาไม่เคยตื่นขึ้นมาในเวลากลางคืนและเห็นเธอร้องไห้อยู่คนเดียว. "แม่แม่ทำไมคุณกำลังร้องไห้แม่?" เธอไม่ตอบเขาก็ร้องไห้กอดแซนดร้า จนถึงขณะนี้แซนดร้ายังจำเหตุการณ์ที่เกิดขึ้น แต่เขาไม่เคยสงสัยอีกครั้ง แซนดร้ารู้ทุกคำถามจะได้รับการตอบด้วย "ความเงียบบุตรของซาตาน!" หรือ "ไม่มีธุรกิจของคุณ Jadah บุตร" หรือ "มันเป็นเรื่องโชคดีที่คุณรักและอาหารของฉันได้รับการศึกษาที่ดี ไม่จู้จี้คุณบุตรประณาม! " คืนหนึ่งที่บ้านของเธอคลานเมา ในห้องด้านหน้าเธออาเจียนและ tergelatak ไม่สามารถรับขึ้นมาอีกครั้ง แซนดร้าซับขึ้นอาเจียนอาเจียน-มันไม่มีคำถาม ผู้หญิงที่เขารู้ว่าเป็นแม่ของเขาได้รับที่บ้านปกติเมา. "การจ้างงานมาม่ามันคืออะไร?" แซนดร้าไม่เคยลืมว่าหลายคำสี่ตัวอักษรในภาษาที่สามารถปรับระดับที่เขาสำหรับคำถามเช่นว่า. แน่นอนแน่นอนแซนดร้ารู้ผู้หญิง มันรัก ทุกวันของสัปดาห์ผู้หญิงพาเธอออกไปพลาซ่าพลาซ่านี้หรือว่า มีแซนดร้าจะได้รับตุ๊กตา, เสื้อผ้า, ไอศครีม, มันฝรั่งทอดและไก่ทอด และอาหารทุกมื้อเธอก็มักจะมองไปที่เขาด้วยความรักและไม่ได้รับเพียงพอที่เยือกเย็น แซนดร้าผู้หญิงก็มักจะเช็ดปากของเขาไอศครีมป้ายและกระซิบ "แซนดร้า, แซนดร้า ... " บางครั้งก่อนที่ผู้หญิงนอนอ่านเรื่องราวของหนังสือภาษาอังกฤษด้วยภาพที่มีสีสัน เสร็จสิ้นการอ่านเรื่องราวของผู้หญิงคนนั้นจะจูบแซนดร้าและมักจะขอให้คำมั่นที่จะเป็นเด็กดี. "สัญญาแม่คุณจะกลายเป็นผู้หญิงที่ดีซานดร้า." "เช่นเดียวกับแม่?" "ไม่มีไม่ชอบมาม่า ไม่ชอบแม่. " แซนดร้าเสมอเรียนรู้ที่จะรักษาสัญญาของเขาและเขาได้กลายเป็นเด็กที่ประพฤติดี แต่เธอก็ไม่เคยทำตัวหวาน แซนดร้ามากขึ้นมักจะเห็นในพฤติกรรมของคนอื่น ๆ ดังนั้นประกายในใจแซนดร้าริมฝีปากสีแดงควัน mengeluaran อย่างต่อเนื่องเสมอปากกลิ่นเหล้าตาหมองคล้ำใบหน้าขาวซีดและวิทยุติดตามตัว ... แน่นอนว่าแซนดร้าจำไว้เสมอว่าสิ่งที่เขียนในเพจเจอร์ของเธอ ทุกครั้งที่วิทยุติดตามตัวออกไปถ้าคุณกระจกแต่งหน้าล่วงหน้าเธอถูกแซนดร้าเสมอขอให้กดปุ่มและอ่าน. ที่รอคอยในภาษาจีนกลางห้อง: 505 PKL 20:00 แซนดร้ารู้ว่าทุกครั้งที่เพจเจอร์เป็นชื่อของโรงแรมจำนวนห้องพักและประชุมชั่วโมงนาน แม่ของเธอจะเป็นบ้านดึก แม้บางครั้งจะไม่กลับมาจนกว่าจะสองหรือสามวัน หากเป็นเช่นนั้นแซนดร้าจะรู้สึกคิดถึงเธอ แต่แล้วเขาได้เรียนรู้ไม่เคยที่จะ mengungkapkanya. *** สี่สิบนาทีผ่านไปแล้ว. "เสร็จสิ้นแล้วอาจถูกรวบรวม" ครู Ibu Tati กล่าว. ได้มีคำบนกระดาษ secoret แซนดร้า ยังคงเป็นสีขาวสะอาดโดยไม่ต้องฉีกคราบ เด็กบางคนที่จนแล้วไม่ได้มีปัญหาในการ teralalu ชีวิตของเขาหมายถึงการเขียนได้อย่างคล่องแคล่ว Bebarapa ซึ่งเสร็จเรียบร้อยแล้วและหลังจากนั้นไม่นานมันก็แจกวิ่งออกมาจากห้องเรียน. ชื่อแซนดร้ายังรู้ว่าสิ่งที่จะเขียน. "กระดาษของคุณยังคงว่างเปล่าซานดร้า?" แม่ครู Tati ทันทีถาม. แซนดร้าไม่ได้ตอบ เขาเริ่มที่จะเขียนชื่อ: แม่ แต่เมื่อครู Tati ไปเขาคิดฝันอีกครั้ง แม่แม่เธอกระซิบเงียบ แม้จะอยู่ในตับถูกแซนดร้าได้รับคุ้นเคยเพียงกระซิบ. นอกจากนี้เขายังกระซิบเพียงคืนนั้นเมื่อฉันตื่นขึ้นมาเพราะย้ายไปอยู่ใต้เตียง ผู้หญิงอาจจะคิดว่าเขายังคงนอนหลับ ผู้หญิงคนอาจจะคิดว่าเพราะพวกเขานอนหลับแล้วแซนดร้าจะไม่ได้ยินเสียง lenguhnya สั้นหรือยาวอยู่บนเตียง ผู้หญิงคนนั้นยังไม่ได้คิดว่าแซนดร้าถูกปลุกให้ตื่นตอนที่เขากำลังนอนอยู่อย่างช่วยไม่ได้และกอดคนที่ได้รับการนอนกรนเสียงดัง เธอไม่ได้ยินอีกครั้งเมื่อ dikolong เตียงแซนดร้ากระซิบลังเล "แม่แม่ ... " และแก้มของเธอเปียกด้วยน้ำตา. "ถึงเวลาของการเก็บรวบรวมทั้งหมดไปข้างหน้า" กล่าวว่าครู Tati. เด็กทุกคนยืนและซ้อนบนโต๊ะ karanganya , แซนดร้าใบกระดาษที่อยู่ตรงกลาง. ที่บ้านในขณะที่ดู RCTI ครู Tati ไม่ได้แต่งงานกับตรวจสอบการทำงานของนักเรียนของเขา หลังจากอ่านครึ่งหนึ่งของกองเรียงความครู Ibu Tati สรุปนักเรียนที่มีประสบการณ์ในวัยเด็กที่สวยงาม. เขาไม่ได้ประสบความสำเร็จในการเขียนเรียงความแซนดร้าซึ่งมีเพียงประโยค: แม่ของฉันเป็นโสเภณี ... Palmerah, 30 พฤศจิกายน 1991 *) โหลด ใน Kompas, วันที่ 5 มกราคม 1992 เลือกเป็นตัวเลือกเรื่องสั้นเข็มทิศ 1993



















































การแปล กรุณารอสักครู่..
 
ภาษาอื่น ๆ
การสนับสนุนเครื่องมือแปลภาษา: กรีก, กันนาดา, กาลิเชียน, คลิงออน, คอร์สิกา, คาซัค, คาตาลัน, คินยารวันดา, คีร์กิซ, คุชราต, จอร์เจีย, จีน, จีนดั้งเดิม, ชวา, ชิเชวา, ซามัว, ซีบัวโน, ซุนดา, ซูลู, ญี่ปุ่น, ดัตช์, ตรวจหาภาษา, ตุรกี, ทมิฬ, ทาจิก, ทาทาร์, นอร์เวย์, บอสเนีย, บัลแกเรีย, บาสก์, ปัญจาป, ฝรั่งเศส, พาชตู, ฟริเชียน, ฟินแลนด์, ฟิลิปปินส์, ภาษาอินโดนีเซี, มองโกเลีย, มัลทีส, มาซีโดเนีย, มาราฐี, มาลากาซี, มาลายาลัม, มาเลย์, ม้ง, ยิดดิช, ยูเครน, รัสเซีย, ละติน, ลักเซมเบิร์ก, ลัตเวีย, ลาว, ลิทัวเนีย, สวาฮิลี, สวีเดน, สิงหล, สินธี, สเปน, สโลวัก, สโลวีเนีย, อังกฤษ, อัมฮาริก, อาร์เซอร์ไบจัน, อาร์เมเนีย, อาหรับ, อิกโบ, อิตาลี, อุยกูร์, อุสเบกิสถาน, อูรดู, ฮังการี, ฮัวซา, ฮาวาย, ฮินดี, ฮีบรู, เกลิกสกอต, เกาหลี, เขมร, เคิร์ด, เช็ก, เซอร์เบียน, เซโซโท, เดนมาร์ก, เตลูกู, เติร์กเมน, เนปาล, เบงกอล, เบลารุส, เปอร์เซีย, เมารี, เมียนมา (พม่า), เยอรมัน, เวลส์, เวียดนาม, เอสเปอแรนโต, เอสโทเนีย, เฮติครีโอล, แอฟริกา, แอลเบเนีย, โคซา, โครเอเชีย, โชนา, โซมาลี, โปรตุเกส, โปแลนด์, โยรูบา, โรมาเนีย, โอเดีย (โอริยา), ไทย, ไอซ์แลนด์, ไอร์แลนด์, การแปลภาษา.

Copyright ©2026 I Love Translation. All reserved.

E-mail: