Sepertinya preface quote diatas terlihat kurang nyambung dengan apa yang akan saya tulis dalam postingan kali ini, begitulah pikiran saya ketika pertama kali mulai mengetikkan kata demi kata quote diatas untuk preface quote dari review saya tentang film Sang Kiai. (Eh, merasa telat banget review-nya. But no probs!! It’s better late than never.) Namun setelah saya baca ulang ternyata nyambung juga karena saya ingat dengan kalimat yang pernah saya tulis dalam postingan tentang Sang Kiai sebelumnya bahwa “Semakin dekat derajat manusia dengan Allah, semakin berat cobaan yang menderanya”. Ternyata kalimat itulah yang menjadi inspirasi saya dalam membuat preface quote diatas.
Sang Kiai, sebuah film yang saya sempat menyaksikan proses shooting-nya di Pondok Pesantren Kapu yang berjarak tidak jauh dari rumah. Yang membuat saya interest dengan film satu ini adalah film ini mengisahkan tentang masa perjuangan KH. Hasyim Asy’ari, yang kebetulan keluarga saya adalah golongan Nahdhatul Ulama, dan juga karena saya sendiri sudah membaca biography tentang beliau yang #subhanallah sungguh berat sekali cobaan yang mendera dalam kehidupannya mulai dari semasa mencari ilmu di Mekah, kembali ke tanah air, mendirikan pesantren di tebuireng yang kala itu tebuireng adalah tempat ‘gelap’ yang masyarakatnya berperilaku sangat buruk, hingga mendirkan Nahdhatul Ulama. Kisah hidup beliau yang begitu luar biasa itulah yang membuat saya janji pada diri untuk harus nonton film ini.
Semacam beruntung tak berkesudahan dengan Sang Kiai ini karena buku biography Hasyim Asy’ari “Mahaguru” saya dapatkan gratis dari Gramedia, dapat kesempatan foto bersama beberapa pemain utama dalam Sang Kiai, seperti Ikranagara (Hasyim Asy’ari), Christine Hakim (Nyai Kapu), Sutradara Sang Kiai, Rako Prijanto, dan juga ketemu langsung dengan para pemain lain seperti Agus Kuncoro (Wahid Hasyim), Adipati Dolken (Harun), Dimas Aditya (Husein), Marisa (Sarinah), dan yang menjadi Kyai Wahab Chasbullah, dan juga dapat tiket gratis nonton bareng pemain dalam premiere film Sang Kiai dari official Rapi Film di Jakarta, namun sayang tidak bisa hadir karena jauhnya itu lo. Huhuu..
Sejauh yang saya ingat tentang filmnya diluar airmata yang terus meleleh dan sesekali merinding karena memang ceritanya sungguh ngeri, ngeri dalam pengertian merasa bahwa perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia dulu sangatlah berat dengan nyawa sebagai taruhannya. Pada menit-menit awal sudah dapat banyak sekali pelajaran berharga yang diajarkan oleh Sang Kiai, pelajaran untuk tidak membeda-bedakan derajat manusia dari hartanya, pelajaran untuk selalu menghargai jerih payah orang lain dan menghargai apa yang kita makan. Saya temukan juga lo, quote yang sempat saya tweet-kan ketika pertama kali trailer-nya rilis.
Sepertinya preface quote diatas terlihat kurang nyambung dengan apa yang akan saya tulis dalam postingan kali ini, begitulah pikiran saya ketika pertama kali mulai mengetikkan kata demi kata quote diatas untuk preface quote dari review saya tentang film Sang Kiai. (Eh, merasa telat banget review-nya. But no probs!! It’s better late than never.) Namun setelah saya baca ulang ternyata nyambung juga karena saya ingat dengan kalimat yang pernah saya tulis dalam postingan tentang Sang Kiai sebelumnya bahwa “Semakin dekat derajat manusia dengan Allah, semakin berat cobaan yang menderanya”. Ternyata kalimat itulah yang menjadi inspirasi saya dalam membuat preface quote diatas.Sang Kiai, sebuah film yang saya sempat menyaksikan proses shooting-nya di Pondok Pesantren Kapu yang berjarak tidak jauh dari rumah. Yang membuat saya interest dengan film satu ini adalah film ini mengisahkan tentang masa perjuangan KH. Hasyim Asy’ari, yang kebetulan keluarga saya adalah golongan Nahdhatul Ulama, dan juga karena saya sendiri sudah membaca biography tentang beliau yang #subhanallah sungguh berat sekali cobaan yang mendera dalam kehidupannya mulai dari semasa mencari ilmu di Mekah, kembali ke tanah air, mendirikan pesantren di tebuireng yang kala itu tebuireng adalah tempat ‘gelap’ yang masyarakatnya berperilaku sangat buruk, hingga mendirkan Nahdhatul Ulama. Kisah hidup beliau yang begitu luar biasa itulah yang membuat saya janji pada diri untuk harus nonton film ini.Semacam beruntung tak berkesudahan dengan Sang Kiai ini karena buku biography Hasyim Asy’ari “Mahaguru” saya dapatkan gratis dari Gramedia, dapat kesempatan foto bersama beberapa pemain utama dalam Sang Kiai, seperti Ikranagara (Hasyim Asy’ari), Christine Hakim (Nyai Kapu), Sutradara Sang Kiai, Rako Prijanto, dan juga ketemu langsung dengan para pemain lain seperti Agus Kuncoro (Wahid Hasyim), Adipati Dolken (Harun), Dimas Aditya (Husein), Marisa (Sarinah), dan yang menjadi Kyai Wahab Chasbullah, dan juga dapat tiket gratis nonton bareng pemain dalam premiere film Sang Kiai dari official Rapi Film di Jakarta, namun sayang tidak bisa hadir karena jauhnya itu lo. Huhuu..Sejauh yang saya ingat tentang filmnya diluar airmata yang terus meleleh dan sesekali merinding karena memang ceritanya sungguh ngeri, ngeri dalam pengertian merasa bahwa perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia dulu sangatlah berat dengan nyawa sebagai taruhannya. Pada menit-menit awal sudah dapat banyak sekali pelajaran berharga yang diajarkan oleh Sang Kiai, pelajaran untuk tidak membeda-bedakan derajat manusia dari hartanya, pelajaran untuk selalu menghargai jerih payah orang lain dan menghargai apa yang kita makan. Saya temukan juga lo, quote yang sempat saya tweet-kan ketika pertama kali trailer-nya rilis.
การแปล กรุณารอสักครู่..
