Minggu lalu saya datang ke bioskop untuk menonton film Wanita. Saya menonton jam lima sore. Sempat sangsi untuk melanjutkan nonton karena saya adalah satu-satunya pembeli tiket. Bukan, bukan karena saya pikir filmnya jelek, tapi karena takut nonton di ruangan luas sendirian. Selain itu, ada rasa miris yang menggerus, kenapa film Indonesia belum mampu juga menjadi primadona di negeri sendiri? Pertanyaan klasik, tapi itu kenyataannya.
Kekurangan yang fatal dari film Wanita Tetap Wanita adalah dari jalinan ceritanya. Maaf jika saya harus mengatakan plotnya begitu dangkal. Film ini memang bertema wanita, namun masalah yang diangkat begitu permukaan. Tak ada penawaran yang baru. Saya mungkin bisa memaklumi karena sutradaranya adalah empat orang lelaki. Sayangnya, itu tidak bisa menjadi pembenaran karena semua penulis skenarionya adalah wanita.