Pada tanggal 5 oktober aku pergi ke ruang 5201 pukul 17:00 untuk menonton film Quickie Express karena ibu Gift paksa semua mahasiswa bahasa indonesia.Oleh pada tanggal 5-11 oktober adalah festifal film Asean tahunan 2558. Film dalam festifal ini terjemahan oleh mahasiswa jurusan Asean Study bahasa Indonesia tahun keempat. Hari itu aku menonton film Quickie Express.
Film ini tentang hidup di Jakarta, Jojo selalu gonta ganti pekerjaan. Ia sadar bahwa dirinya bodoh, tapi tak pernah lelah berusaha. Suatu hari ia terpuruk menjadi pegawai di tempat tambal ban.Di sini ia bertemu dengan lelaki tua kaya yang menawarkan pekerjaan "layanan escort" di perusahaan miliknya yang bernama Quickie Express. Untuk menghindari protes, usaha ini berkedok layanan antaran pizza. Jojo bergabung dengan Marley dan Piktor. Pekerjaan ini ternyata mudah, menyenangkan, dan menghasilkan banyak uang, hingga kehidupan mereka membaik. Kesenangan ini terusik saat Jojo bertemu dengan mahasiswi kedokteran, jatuh cinta dan tahu gadis itu putri salah seorang pelanggannya, yang juga istri pentolan mafia Jean Pieter Gunarto
Setelah itu pada tanggal 8 aku pergi menonton film lagi. Hari itu aku menonton film yang berjudul Lovely Man. Adalah film tentang Cahaya gadis pesantren, pergi ke Jakarta untuk mencari bapaknya, Syaiful yang meninggalkan rumah waktu Cahaya masih berusia empat tahun. Sesampainya di ibukota, Cahaya menemukan bahwa bapaknya jauh dari harapannya. Syaiful ternyata setiap malam bekerja sebagai waria dengan nama Ipuy. Mereka berdua pun berjalan menyusuri jalanan ibukota semalaman, mencoba menemukan kembali ikatan keluarga yang sudah lama hilang.
Ketika film ini terakhir aku merasa film ini menampilkan bagaimana seorang remaja putri berjilbab berusaha menerima keadaan ayahnya yang transgender.Bagi film Quickie Express adalah sebuah film dark comedy yang penuh sindiran, bagaikan menggigit sepotong pizza yang terlihat lezat, tetapi ternyata alot bagaikan ban karet. Dua film adalah film yang tertarik dan komentar tentang hidup.
Pada tanggal 5 oktober aku pergi ke ruang 5201 pukul 17:00 untuk menonton film Quickie Express karena ibu Gift paksa semua mahasiswa bahasa indonesia.Oleh pada tanggal 5-11 oktober adalah festifal film Asean tahunan 2558. Film dalam festifal ini terjemahan oleh mahasiswa jurusan Asean Study bahasa Indonesia tahun keempat. Hari itu aku menonton film Quickie Express. Film ini tentang hidup di Jakarta, Jojo selalu gonta ganti pekerjaan. Ia sadar bahwa dirinya bodoh, tapi tak pernah lelah berusaha. Suatu hari ia terpuruk menjadi pegawai di tempat tambal ban.Di sini ia bertemu dengan lelaki tua kaya yang menawarkan pekerjaan "layanan escort" di perusahaan miliknya yang bernama Quickie Express. Untuk menghindari protes, usaha ini berkedok layanan antaran pizza. Jojo bergabung dengan Marley dan Piktor. Pekerjaan ini ternyata mudah, menyenangkan, dan menghasilkan banyak uang, hingga kehidupan mereka membaik. Kesenangan ini terusik saat Jojo bertemu dengan mahasiswi kedokteran, jatuh cinta dan tahu gadis itu putri salah seorang pelanggannya, yang juga istri pentolan mafia Jean Pieter Gunarto Setelah itu pada tanggal 8 aku pergi menonton film lagi. Hari itu aku menonton film yang berjudul Lovely Man. Adalah film tentang Cahaya gadis pesantren, pergi ke Jakarta untuk mencari bapaknya, Syaiful yang meninggalkan rumah waktu Cahaya masih berusia empat tahun. Sesampainya di ibukota, Cahaya menemukan bahwa bapaknya jauh dari harapannya. Syaiful ternyata setiap malam bekerja sebagai waria dengan nama Ipuy. Mereka berdua pun berjalan menyusuri jalanan ibukota semalaman, mencoba menemukan kembali ikatan keluarga yang sudah lama hilang. Ketika film ini terakhir aku merasa film ini menampilkan bagaimana seorang remaja putri berjilbab berusaha menerima keadaan ayahnya yang transgender.Bagi film Quickie Express adalah sebuah film dark comedy yang penuh sindiran, bagaikan menggigit sepotong pizza yang terlihat lezat, tetapi ternyata alot bagaikan ban karet. Dua film adalah film yang tertarik dan komentar tentang hidup.
การแปล กรุณารอสักครู่..
