Ketika Vira siuman, ia terkejut saat tersadar dirinya berada dalam pan การแปล - Ketika Vira siuman, ia terkejut saat tersadar dirinya berada dalam pan ไทย วิธีการพูด

Ketika Vira siuman, ia terkejut saa

Ketika Vira siuman, ia terkejut saat tersadar dirinya berada dalam pangkuan seorang pemuda berkulit putih dengan binar di matanya yang cokelat. Hembusan angin di sekitar danau merayap, perlahan menjamah tubuh Vira hingga ia merasa kedinginan. Pakaiannya juga basah kuyup.

Matanya disuguhkan tatapan tajam, tetesan air jatuh membasahi pipi Vira dari dahi pemuda itu membuatnya tak nyaman dan menggiringnya untuk bangun dari pangkuan itu.

“Kau baik-baik saja?” tanya pemuda itu memecah keheningan.

Vira terbangun dan perlahan menjauh. Namun luka di kaki membuatnya sulit berlari.

“Tenang. Aku tak akan menyakitimu. Namaku Daru, aku yang menyelamatkanmu. Tadi kau hampir tenggelam karena perahu yang kautumpangi bocor,” tandas pemuda bernama Daru itu.

Kerutan terlihat jelas di dahi Vira sesaat mendengar penjelasan Daru. Sejenak ia terdiam. Pikirannya menerawang pada kejadian sebelumnya.

“Kau tertidur di perahu kecil itu,” tunjuk Dani ke tengah danau. “Saat aku berjalan mengitari danau, aku melihat perahumu terbalik dan segera aku menyelamatkanmu,”

Vira masih berdiri mematung menatap tak percaya pada lelaki bertubuh tinggi putih di depannya itu.

“Vira!”

Mendengar seruan itu, sontak Vira menoleh. Ia tersenyum tenang karena sosok itu tak asing baginya, Ardi. Sahabatnya dari kecil. Perlahan Vira mencoba melangkahkan kaki, namun luka di kakinya yang menyisakan banyak darah membuatnya tak mampu berjalan. Daru meraih tangan dingin itu dan memapahnya perlahan.

Tatapan tajam mengarah pada Daru. Vira menatap lekat-lekat sosok bermata cokelat itu. Vira mencermati bentuk rambut, lekuk pipi, hingga bentuk bibir sosok itu. Hati dan pikirnya tak henti dihadapkan pertanyaan tentang jati diri sosok yang tengah memapahnya.

“Ra? Kau tidak apa-apa? Aku mencarimu,” sesaat Ardi menatap Daru penuh tanya.
“Dia yang menolongku, kau tak usah menatapnya seperti itu,” seru Vira melibas tatapan Ardi yang sedari tadi mencermati sosok Daru. Sementara yang dicermati hanya mengangguk dan tersenyum.
“Terima kasih.” tutur Ardi saat ia menggantikan Daru memapah Vira.
“Sebaiknya kita cepat pulang, aku rasa lelaki ini bukan orang baik-baik,” bisik Ardi. Vira hanya tertunduk menahan sakit kakinya.

Mereka perlahan berjalan meninggalkan danau. Tak ada balasan dari Daru atas ucapan terima kasih yang telah Ardi lontarkan. Sesekali Vira menoleh, mengingat wajah lelaki itu. Hingga di akhir ia menoleh, pandangannya kosong. Sosok itu tak ada. Menghilang begitu cepat. “Kemana lelaki itu?” kejutnya.
Langkah Vira yang terhenti, membuat Ardi terdiam menatapnya.

“Ada apa?”
“Tidak. Ayo, kita lanjutkan,”

Vira menyembunyikan kejanggalan hatinya atas menghilangnya lelaki itu, dari Ardi. Hingga akhirnya mereka berdua disambut oleh kedua sahabatnya yang sedari tadi menunggu di pintu masuk danau.

“Ra, kau baik-baik saja?” tanya Rumi.
“Dari tadi kita mencarimu kemana-mana. Tapi kenapa bisa Ardi menemukanmu, padahal kita dari tadi mengitari seisi danau? Ardi, kau menemukan Vira dimana?” tandas Lukman heran.
“Tadi Vira ditolong oleh seorang lelaki, entahlah aku kurang mengerti. Kita ceritakan di rumahku saja. Ayo,” balas Ardi menunda jawabannya.

Mereka pun meninggalkan danau dengan mobil. Sementara di saat mobil melaju, Vira samar-samar melihat sosok Daru berdiri mematung menatap mobil yang ia tumpangi. Vira memalingkan pandangan. Menatap ke depan dengan napas yang perlahan tak beraturan. Ia berusaha bersikap normal agar sahabat-sahabatnya itu tak curiga.

Pagi itu tak seperti biasanya. Vira hanyut dalam lamunan mengingat sosok Daru, lelaki yang menolongnya saat di danau. Ia masih penasaran, mengapa Daru tiba-tiba menghilang dan kembali menampakkan diri setelah ia pergi.

“Daru. Ya, itulah nama lelaki itu.”

Vira mencatat nama Daru dalam diarinya. Ia kembali menatap riak kolam yang ada di depannya. Tak seperti biasanya Vira duduk di bangku taman kampus sambil melamun. Ia sampai tak mampu berpuisi, seakan diksi yang ada dalam pikirannya tersapu oleh lamunan sosok Daru.

“Ya Tuhan … Ada apa ini? Mengapa ini jawaban dari doaku? Aku meminta agar Engkau segera mempertemukanku dengan jodohku, tapi kenapa malah lelaki misterius itu yang sekarang malah membuat pikiranku tak menentu. Lalu siapa lelaki itu? Apa dia hantu? Ah! Aku pusing ..”

Vira memejamkan matanya dan menunduk. Pikirannya tak bisa berpaling dari sosok Daru, sosok misterius itu. Vira masih duduk menunduk dengan tangan memegang kepala. Ia tak sadar ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya dari jauh. Hingga sebuah tepukan di bahu mengejutkannya.

“Kyaa!” pekik Vira ketakutan.
“Hei, girl ada apa?” tanya Ardi dengan tatapan heran.
“Ardi, kau mengejutkanku. Kukira kau—” Vira menggantung perkataannya, membuat Ardi semakin penasaran.
“Siapa? Kaukira aku siapa? Apa kau sehat, Ra? Sepertinya kau sakit,” lanjut Ardi seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi Vira.
“I’m ok.” Vira melepas sentuhan yang mendarat di dahinya itu.

Vira mengemas barang-barangnya dan berlalu pergi. Ardi menatap aneh pada sahabatnya itu. Ia merasakan ada sesuatu yang Vira sembunyikan. Sikap Vira berubah sejak kepulangannya dari danau.

Hentakan kaki Vira yang cepat, serta matanya yang fokus pada layar ponselnya membuatnya tak begitu memperhatikan jalanan di depannya. Hingga akhirnya ia terjatuh karena seseorang menabraknya dan pergi begitu saja.

Vira masih berada pada posisi terjatuh. Ia tak menghiraukan siapa yang menabraknya, ia hanya mencari ponselnya yang terpental entah kemana. Matanya berkeliling mencari ponselnya. Sampai akhirnya ia pun menemukannya. Vira meraih tasnya yang tergeletak di lantai. Ia mengernyitkan keningnya saat matanya mendapati tasnya terbuka. Ia menatap sekitar. Tapi orang-orang yang berlalu-lalang tak begitu menghiraukannya.

“Siapa yang buka tasku? Ah, sudahlah mungkin karena aku terburu-buru. Kecerobohanku tak hilang-hilang. Ya Tuhan …” jelasnya seraya kembali berjalan menuju kelas. Rumi sudah menunggunya dari tadi.

Dua bulan berlalu. Vira masih memikirkan sosok Daru. Bahkan sikapnya yang seperti itu membuat Ardi merasa terlupakan.

“Ra, aku ingin bicara sesuatu,” jelas Ardi membuka obrolannya.
“Bicara saja,” balas Vira dengan pandangan lurus pada diarinya.
“Kurasa kau telah berubah. Kau jadi pendiam dan sering memisahkan diri. Sebentar lagi kuliah kita selesai dan kita jadi sarjana, apa harus kau bersikap seperti ini di saat-saat terakhir kita kuliah? Sebenarnya ada apa? Apa ada yang menyakitimu? Katakan padaku, Vira. Jujur saja, aku tak tahan dengan sikapmu akhir-akhir ini,” tutur Ardi panjang lebar.

Perlahan Vira menutup diarinya dan menarik napas panjang, menghembuskannya dengan berat sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu.

“Ardi, aku baik-baik saja. Tak ada yang berubah dariku. Justru akhir-akhir ini aku tak nyaman dengan sikapmu yang mengatur. Kau membuatku tak nyaman. Sudahlah,” Vira memalingkan pandangannya pada diari yang masih berada di pangkuannya.
“Aku seperti ini karena aku menyayangimu, Ra. Seperti pesan mendiang Ibumu aku harus menjagamu,” lanjut Ardi.

Vira hanya menggelengkan kepala dan bergegas pergi. Namun tarikan di lengannya membuatnya terhenti melangkah.

“Apa lagi?”
“Kau benar-benar berubah,”
“Cukup berkata seperti itu, Di. Cukup!”
“Oh, apa ini karena lelaki yang menolongmu di danau waktu itu? Karena sejak saat itu kau berubah, semakin berubah. Katakan Vira!”
“Ardi, cukup ya kau bersikap seperti ini. Siapapun yang kupikirkan itu bukan urusanmu. Kau memang sahabatku, kau boleh menjagaku tapi tidak mengatur hidupku. Dan cukup jangan mendesakku!”
“Aku hanya tak ingin kau tersakiti,”
“Apa? Tak ingin aku tersakiti? Justru aku tersakiti dengan sikapmu yang seperti ini. Hingga tak ada satu pun lelaki yang mau mendekatiku, karena kau selalu mencegahnya. Sudahlah!”

Vira melepas tarikan itu namun Ardi menahannya dengan paksa hingga Vira merasa kesakitan. Sepasang mata yang sedari tadi mengawasi mereka menatap begitu tajam. Namun mata itu tak berpindah arah. Sang pemilik mata itu tetap berada di tempat persembunyiannya.

“Karena aku mencintaimu …” sambung Ardi memekakan telinga Vira.

Vira terdiam. Mereka terkulum dalam hening. Tak ada yang mampu kembali berkata. Dan Vira kembali mencoba pergi. Namun Ardi tetap menahannya. Sampai akhirnya Ardi melepas Vira.

“Maafkan aku Ardi,”

Vira berlalu dari hadapan Ardi. Ardi terdiam menatap Vira. Kepergian Vira memberi jawaban bahwa ia memberi penolakkan terhadap Ardi. Ardi menelan luka yang sangat menyakitkan. Cintanya selama bertahun-tahun tersimpan terlibas oleh sikap Vira yang tak bisa menerimanya. Kenyataan pahit bahwa Vira tak pernah menaruh hati padanya.

“Tunggu saja, kau akan berlutut padaku. Dan mengemis padaku,” jelas Ardi dengan nada penuh dendam.

Vira mempercepat langkahnya hingga ia berhenti di perpustakaan kampus. Ia duduk menyudut di ruang perpustakaan. Kembali ia tertunduk seakan begitu banyak beban yang ia pikul.
Perlahan jemarinya mengambil diari. Sebuah surat terjatuh dari dalam tasnya. Segera Vira memungut surat itu dan membacanya.

“26 juni? Berarti surat ini sudah ada di tasku selama dua bulan?” bisik Vira dalam hati, perlahan ia membuka surat itu dan membacanya.

“Hai. Bagaimana kabarmu? Jangan bersedih dan terlalu sering melamun. Kurasa wajahmu yang bersinar kini terlihat redup. Kau tak pernah sendiri, ada aku yang selalu menemanimu. Kau tak pernah menyadari ada sepasang mata yang selalu mengawasimu. Dan kau tak perlu mengetahui siapa aku. Karena kutahu sejak saat itu, aku selalu hadir dalam pikiranmu. Mungkin nanti, akan ada saatnya namaku terpatri di hatimu.
Salam senja, hai gadis bermata sayu.” Jelas Vira membaca isi surat itu.

Berkali-kali ia membolak-balikkan surat itu, mencari nama si pengirim. Namun tak ada satu pun nama dan tanda yang menjurus pada identitas si pengirim. Sejenak ia berpikir. Ia menebak surat itu dari Ardi. Hingga akhirnya ia memantapkan dugaannya itu. Ia meremas surat itu dan melemparnya pada tempat
0/5000
จาก: -
เป็น: -
ผลลัพธ์ (ไทย) 1: [สำเนา]
คัดลอก!
เมื่อวีราจากสติ กำลังประหลาดใจเมื่อปลุกตัวเองอยู่ในตักของชายหนุ่มเป็นธรรมแม้ ด้วย twinkle ในตาเป็นสีน้ำตาล ให้ลมรอบทะเลสาบ crept ช้า สัมผัสร่างกายของวีราจนกว่าเขารู้สึกเย็น เสื้อผ้าของเขายังเปี่ยมล้นไปด้วยตาของเขาเป็น สายตาที่คมชัด หยดน้ำตกลงมาเปียกแก้มวีราจากหน้าผากของเยาวชนที่ทำให้อึดอัดและ menggiringnya การตื่นขึ้นจากตักของเธอมัน"คุณไร" ถามหนุ่มสาวคนยากจนความเงียบวีราตื่นขึ้น และช้าลงไป แต่แผลในขาทำให้ยากต่อการทำงาน"เงียบสงบ ฉันจะไม่สามารถทำร้ายคุณ ชื่อของฉันคือ พระเจ้าดารู ฉันที่บันทึกคุณ ล่าสุดคุณเกือบจมเรือ kautumpangi ที่รั่วไหลออกมา "ชายหนุ่มที่ชื่อว่าพระเจ้าดารู สัมผัสมันริ้วรอยที่มองเห็นได้อย่างชัดเจนบนหน้าผากวีราช้าฟังคำอธิบายของพระเจ้าดารู ในขณะเขาได้พูด จิตใจของเขาได้ฝันในเหตุการณ์ก่อนหน้านี้"คุณกำลังหลับในเรือลำน้อยที่ ชี้ไป Dani กลางทะเลสาบ "ฉันเดินรอบทะเลสาบ ฉันเห็น perahumu คว่ำ และเร็ว ๆ นี้ บันทึกคุณวีรายืนจ้องมองใน disbelief ขึ้นสูง bodied ชายขาวหน้ามัน"วีรา"ได้ยินเสียงร้องของมัน วีราทันทีที่เปิด เขายิ้มอย่างเงียบ ๆ เพราะตัวเลขไม่ต่างกับเขา Ardi เพื่อนของเขาจากเด็ก ช้าวีราพยายามเดิน แต่แผลบนขาของเขาที่ทิ้งของเลือดทำให้เขาไม่สามารถเดิน พระเจ้าดารูคว้ามือเย็นและ memapahnya ช้าStares คมนำไปสู่พระเจ้าดารู วีรามองอย่างใกล้ชิด--บราวน์อายด์รูป latched มันลง วีราสังเกตฟอร์มกลวงแก้ม ผม ปากรูปร่างจะคิดออก หัวใจและ tireless กล่าวว่า ประสบคำถามเกี่ยวกับลักษณะเฉพาะของตัวเลขกลางของ memapahnya"หรา คุณไม่อะไร ฉันกำลังมองหา "Ardi อับ มองที่พระเจ้าดารูเต็มคำถาม"พระองค์ผู้ทรงไม่ มี คุณช่วยฉันมองเธอเช่นนั้น, " ทางหลุดรอดวีรา bulldoze สายตา Ardi ปัจจุบันจะสังเกตตัวเลขสุดท้ายของพระเจ้าดารู ในขณะ scrutiny เพียงพยักหน้า และยิ้ม"ขอขอบคุณคุณ" กล่าวว่า Ardi เป็นเขาแทน memapah พระเจ้าดารูวีรา"เราควรรวดเร็วกลับบ้าน ผมคิดว่า คนนี้ไม่ใช่คนดี กระซิบ Ardi วีรา downcast เท่าทนต่อความเจ็บปวดช้าเดินทะเลสาบ ตอบจากพระเจ้าดารูไม่เกินหน่วยกิตที่ได้โยน Ardi เป็นครั้งคราววีราดู พิจารณาใบหน้าของมนุษย์ จนในสุดเธอเปิด มุมมองของเขาว่างเปล่า ไม่มีเลขที่ หายไปอย่างรวดเร็ว "อยู่คนไหน" kejutnyaขั้นตอนการหยุดทำงาน ทำวีรา Ardi พูดจ้องเธอ"มันคืออะไร""ไม่ ลองดำเนินการต่อไปวีราซ่อนความผิดใจเขามากกว่าการสูญหายของคน จาก Ardi จนในที่สุดพวกเขา ทั้งสองรับการต้อนรับทั้งเพื่อนของเขาที่มีแต่สุดท้ายที่เข้าสู่ทะเลสาบ" Ra เป็น Alright ? " ขอขั้น"จากล่าสุด เรามองคุณทุก แต่ทำไมสามารถ Ardi พบคุณ แต่เราจัดเด็กบึงทั้งหมด ARDI หาวีราที่? "สัมผัสใจ Lukman“Tadi Vira ditolong oleh seorang lelaki, entahlah aku kurang mengerti. Kita ceritakan di rumahku saja. Ayo,” balas Ardi menunda jawabannya.Mereka pun meninggalkan danau dengan mobil. Sementara di saat mobil melaju, Vira samar-samar melihat sosok Daru berdiri mematung menatap mobil yang ia tumpangi. Vira memalingkan pandangan. Menatap ke depan dengan napas yang perlahan tak beraturan. Ia berusaha bersikap normal agar sahabat-sahabatnya itu tak curiga.Pagi itu tak seperti biasanya. Vira hanyut dalam lamunan mengingat sosok Daru, lelaki yang menolongnya saat di danau. Ia masih penasaran, mengapa Daru tiba-tiba menghilang dan kembali menampakkan diri setelah ia pergi.“Daru. Ya, itulah nama lelaki itu.”Vira mencatat nama Daru dalam diarinya. Ia kembali menatap riak kolam yang ada di depannya. Tak seperti biasanya Vira duduk di bangku taman kampus sambil melamun. Ia sampai tak mampu berpuisi, seakan diksi yang ada dalam pikirannya tersapu oleh lamunan sosok Daru.“Ya Tuhan … Ada apa ini? Mengapa ini jawaban dari doaku? Aku meminta agar Engkau segera mempertemukanku dengan jodohku, tapi kenapa malah lelaki misterius itu yang sekarang malah membuat pikiranku tak menentu. Lalu siapa lelaki itu? Apa dia hantu? Ah! Aku pusing ..”Vira memejamkan matanya dan menunduk. Pikirannya tak bisa berpaling dari sosok Daru, sosok misterius itu. Vira masih duduk menunduk dengan tangan memegang kepala. Ia tak sadar ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya dari jauh. Hingga sebuah tepukan di bahu mengejutkannya.“Kyaa!” pekik Vira ketakutan.“Hei, girl ada apa?” tanya Ardi dengan tatapan heran.“Ardi, kau mengejutkanku. Kukira kau—” Vira menggantung perkataannya, membuat Ardi semakin penasaran.“Siapa? Kaukira aku siapa? Apa kau sehat, Ra? Sepertinya kau sakit,” lanjut Ardi seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi Vira.“I’m ok.” Vira melepas sentuhan yang mendarat di dahinya itu.Vira mengemas barang-barangnya dan berlalu pergi. Ardi menatap aneh pada sahabatnya itu. Ia merasakan ada sesuatu yang Vira sembunyikan. Sikap Vira berubah sejak kepulangannya dari danau.Hentakan kaki Vira yang cepat, serta matanya yang fokus pada layar ponselnya membuatnya tak begitu memperhatikan jalanan di depannya. Hingga akhirnya ia terjatuh karena seseorang menabraknya dan pergi begitu saja.Vira masih berada pada posisi terjatuh. Ia tak menghiraukan siapa yang menabraknya, ia hanya mencari ponselnya yang terpental entah kemana. Matanya berkeliling mencari ponselnya. Sampai akhirnya ia pun menemukannya. Vira meraih tasnya yang tergeletak di lantai. Ia mengernyitkan keningnya saat matanya mendapati tasnya terbuka. Ia menatap sekitar. Tapi orang-orang yang berlalu-lalang tak begitu menghiraukannya.“Siapa yang buka tasku? Ah, sudahlah mungkin karena aku terburu-buru. Kecerobohanku tak hilang-hilang. Ya Tuhan …” jelasnya seraya kembali berjalan menuju kelas. Rumi sudah menunggunya dari tadi.Dua bulan berlalu. Vira masih memikirkan sosok Daru. Bahkan sikapnya yang seperti itu membuat Ardi merasa terlupakan.“Ra, aku ingin bicara sesuatu,” jelas Ardi membuka obrolannya.“Bicara saja,” balas Vira dengan pandangan lurus pada diarinya.“Kurasa kau telah berubah. Kau jadi pendiam dan sering memisahkan diri. Sebentar lagi kuliah kita selesai dan kita jadi sarjana, apa harus kau bersikap seperti ini di saat-saat terakhir kita kuliah? Sebenarnya ada apa? Apa ada yang menyakitimu? Katakan padaku, Vira. Jujur saja, aku tak tahan dengan sikapmu akhir-akhir ini,” tutur Ardi panjang lebar.Perlahan Vira menutup diarinya dan menarik napas panjang, menghembuskannya dengan berat sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu.“Ardi, aku baik-baik saja. Tak ada yang berubah dariku. Justru akhir-akhir ini aku tak nyaman dengan sikapmu yang mengatur. Kau membuatku tak nyaman. Sudahlah,” Vira memalingkan pandangannya pada diari yang masih berada di pangkuannya.“Aku seperti ini karena aku menyayangimu, Ra. Seperti pesan mendiang Ibumu aku harus menjagamu,” lanjut Ardi.Vira hanya menggelengkan kepala dan bergegas pergi. Namun tarikan di lengannya membuatnya terhenti melangkah.“Apa lagi?”“Kau benar-benar berubah,”“Cukup berkata seperti itu, Di. Cukup!”“Oh, apa ini karena lelaki yang menolongmu di danau waktu itu? Karena sejak saat itu kau berubah, semakin berubah. Katakan Vira!”“Ardi, cukup ya kau bersikap seperti ini. Siapapun yang kupikirkan itu bukan urusanmu. Kau memang sahabatku, kau boleh menjagaku tapi tidak mengatur hidupku. Dan cukup jangan mendesakku!”“Aku hanya tak ingin kau tersakiti,”“Apa? Tak ingin aku tersakiti? Justru aku tersakiti dengan sikapmu yang seperti ini. Hingga tak ada satu pun lelaki yang mau mendekatiku, karena kau selalu mencegahnya. Sudahlah!”Vira melepas tarikan itu namun Ardi menahannya dengan paksa hingga Vira merasa kesakitan. Sepasang mata yang sedari tadi mengawasi mereka menatap begitu tajam. Namun mata itu tak berpindah arah. Sang pemilik mata itu tetap berada di tempat persembunyiannya.“Karena aku mencintaimu …” sambung Ardi memekakan telinga Vira.Vira terdiam. Mereka terkulum dalam hening. Tak ada yang mampu kembali berkata. Dan Vira kembali mencoba pergi. Namun Ardi tetap menahannya. Sampai akhirnya Ardi melepas Vira.“Maafkan aku Ardi,”Vira berlalu dari hadapan Ardi. Ardi terdiam menatap Vira. Kepergian Vira memberi jawaban bahwa ia memberi penolakkan terhadap Ardi. Ardi menelan luka yang sangat menyakitkan. Cintanya selama bertahun-tahun tersimpan terlibas oleh sikap Vira yang tak bisa menerimanya. Kenyataan pahit bahwa Vira tak pernah menaruh hati padanya.“Tunggu saja, kau akan berlutut padaku. Dan mengemis padaku,” jelas Ardi dengan nada penuh dendam.Vira mempercepat langkahnya hingga ia berhenti di perpustakaan kampus. Ia duduk menyudut di ruang perpustakaan. Kembali ia tertunduk seakan begitu banyak beban yang ia pikul.Perlahan jemarinya mengambil diari. Sebuah surat terjatuh dari dalam tasnya. Segera Vira memungut surat itu dan membacanya.

“26 juni? Berarti surat ini sudah ada di tasku selama dua bulan?” bisik Vira dalam hati, perlahan ia membuka surat itu dan membacanya.

“Hai. Bagaimana kabarmu? Jangan bersedih dan terlalu sering melamun. Kurasa wajahmu yang bersinar kini terlihat redup. Kau tak pernah sendiri, ada aku yang selalu menemanimu. Kau tak pernah menyadari ada sepasang mata yang selalu mengawasimu. Dan kau tak perlu mengetahui siapa aku. Karena kutahu sejak saat itu, aku selalu hadir dalam pikiranmu. Mungkin nanti, akan ada saatnya namaku terpatri di hatimu.
Salam senja, hai gadis bermata sayu.” Jelas Vira membaca isi surat itu.

Berkali-kali ia membolak-balikkan surat itu, mencari nama si pengirim. Namun tak ada satu pun nama dan tanda yang menjurus pada identitas si pengirim. Sejenak ia berpikir. Ia menebak surat itu dari Ardi. Hingga akhirnya ia memantapkan dugaannya itu. Ia meremas surat itu dan melemparnya pada tempat
การแปล กรุณารอสักครู่..
ผลลัพธ์ (ไทย) 2:[สำเนา]
คัดลอก!
เมื่อวีระฟื้นคืนสติเขารู้สึกประหลาดใจที่รู้ว่าเขาอยู่ในตักของชายหนุ่มในสีขาวที่มีตาสีน้ำตาลกระพริบตา กระโชกของลมรอบทะเลสาบคืบคลานสัมผัสร่างกายช้าวีระจนกว่าเขาจะรู้สึกเย็น เสื้อผ้าของเธอยังแช่. ดวงตาของเขาจ้องมองนำเสนอหยดแก้มเปียกวีระจากหน้าผากของชายหนุ่มที่ทำให้เขาอึดอัดและทำให้เขาได้รับการขึ้นจากตัก. "คุณโอเค?" ถามชายหนุ่มที่ทำลายความเงียบ. วีระตื่นขึ้นมาและค่อยๆดึงออกไป , แต่บาดแผลในขาทำให้ยากที่จะทำงาน. "เงียบ ฉันจะไม่ทำร้าย Daru ชื่อของฉันฉันบันทึกคุณ คุณถูกจมน้ำเกือบเพราะ kautumpangi เรือรั่ว "กล่าวว่าชายหนุ่มที่ชื่อ Daru. ริ้วรอยที่มองเห็นได้อย่างชัดเจนบนหน้าผากวีระไม่นานได้ยินคำอธิบาย Daru สำหรับช่วงเวลาที่เขาเงียบ คิดของเขาในครั้งก่อนหน้านี้. "คุณผล็อยหลับไปในเรือลำเล็ก ๆ " แดนีชี้ไปที่กลางทะเลสาบ "ขณะที่ผมเดินรอบทะเลสาบผมเห็นเรือคว่ำและทันทีที่ฉันบันทึก" วีระยังคงยืนจ้องมองในการปฏิเสธศรัทธาที่คนขาวสูงในด้านหน้าของเขา. "วีระ" ได้ยินสายวีระหัน เขายิ้มอย่างใจเย็นเพราะคิดเป็นคุ้นเคยกับเขา Ardi เพื่อนที่ดีที่สุดของเขาตั้งแต่วัยเด็ก วีระพยายามก้าวช้า แต่แผลที่ขาของเขาที่ทำให้เลือดมากทำให้เขาไม่สามารถที่จะเดิน Daru เอามือของเธอและทำให้เธอค่อย ๆ เย็น. จ้องมองอย่างรวดเร็วนำไปสู่การ Daru วีระมองอย่างใกล้ชิดที่ตัวเลขสีน้ำตาลตา วีระมีลักษณะรูปทรงผม, กลวงของแก้มริมฝีปากในรูปแบบตัวเลข หัวใจและเขาคิดว่าต้องเผชิญอย่างไม่มีที่สิ้นสุดที่มีคำถามเกี่ยวกับตัวตนของตัวเลขที่ได้รับการสนับสนุนของเธอ. "Ra? คุณสบายดีไหม? ฉันกำลังมองหาคุณ "ขณะ Daru Ardi จ้องมองอย่างแปลก. "เขาช่วยให้ผมคุณไม่จำเป็นต้องมองไปที่เขาอย่างนั้น" กล่าวว่าวีระผลัก Ardi จ้องมองที่ได้รับการมองไปที่ร่างของ Daru ในขณะที่การสังเกตเพียงพยักหน้าและยิ้ม. "ขอบคุณ." กล่าวว่าเมื่อเขา Ardi แทนที่ Daru หนุนวีระ. "เราควรที่จะรีบขึ้นผมคิดว่าผู้ชายคนนี้ไม่ได้เป็นคนดี" กระซิบ Ardi วีระเพียงโค้งคำนับอาการปวดขา. พวกเขาค่อย ๆ เดินออกไปจากทะเลสาบ มีการตอบกลับจากด้านบน Daru ของความกตัญญูที่มีหนังสติ๊กเป็น Ardi วีระบางครั้งหันจดจำใบหน้าของชายคนนั้น จนกระทั่งในที่สุดเขาก็หันดวงตาของเขาว่าง รูปที่ไม่ได้มี หายไปอย่างรวดเร็ว "ที่ไหนมีคนได้หรือไม่" Kejutnya. วีระขั้นตอนที่จะหยุดการทำงานทำให้ Ardi เงียบจ้องมองที่เขา. "คืออะไร" "ไม่มีอะไร ขอย้าย " วีระซ่อนความอึดอัดของเขาสำหรับการหายตัวไปของมนุษย์ของ Ardi จนกระทั่งพวกเขาทั้งสองได้รับการต้อนรับจากเพื่อนสองคนที่ได้รับการรอที่ทางเข้าทะเลสาบ. "รา, คุณโอเค?" ถามรุมิ. "จากก่อนหน้านี้ที่เรามองหาคุณทุกที่ แต่ทำไม Ardi อาจพบว่าคุณแม้ว่าเราจะได้รับรอบทะเลสาบทั้งหมด? Ardi คุณจะพบวีระที่ไหน "Lukman สงสัยกล่าวว่า. "นั่นวีระรับการช่วยเหลือจากชายคนหนึ่งที่ผมไม่ทราบว่าผมไม่เข้าใจ เราบอกคุณในบ้านของฉันคนเดียว Come on, "กล่าวว่า Ardi ชะลอคำตอบ. พวกเขายังออกจากทะเลสาบโดยรถยนต์ ขณะที่อยู่ในรถขณะขับรถ, วีระรางดูรูป Daru ยืนจ้องมองที่รถของเขาได้รับการขี่ม้า วีระมองออกไป มองไปในอนาคตกับการหายใจที่ผิดปกติอย่างช้าๆ เขาพยายามที่จะทำหน้าที่ตามปกติเพื่อให้เพื่อน ๆ ของเขาไม่ได้เป็นที่น่าสงสัย. ตอนเช้าไม่ได้ตามปกติ วีระหายไปในความคิดความทรงจำตัวเลขของ Daru, คนที่ช่วยเขาเมื่อในทะเลสาบ เขายังคงอยากรู้ว่าทำไม Daru ก็หายไปและปรากฏตัวอีกครั้งหลังจากที่เขาออก. "Daru ใช่ว่าเป็นชื่อของเขา. " วีระระบุไว้ในบันทึกของเขาชื่อ Daru เขามองกลับมาที่บ่อระลอกในด้านหน้าของเขา วีระไม่เคยนั่งอยู่บนม้านั่งในสวนสาธารณะมหาวิทยาลัยฝัน เขาไม่สามารถที่จะบทกวีพจน์ราวกับว่าเขามีอยู่ในใจถูกกวาดออกไปโดยตัวเลขฝันกลางวันของ Daru. "โอ้พระเจ้าของฉัน ... มันคืออะไร? นี่คือเหตุผลที่คำตอบคำอธิษฐานของฉันได้อย่างไร ฉันขอให้คุณทันที mempertemukanku กับ jodohku แต่ทำไมแม้กระทั่งชายลึกลับซึ่งตอนนี้ยังทำให้จิตใจที่ผิดปกติ แล้วใครคือคน? เขาเป็นผี? Ah! ผมก็งง .. " วีระปิดตาของเขาและโค้งคำนับศีรษะของเขา จิตใจของเขาไม่สามารถเปิดออกไปจากร่างของ Daru, บุคคลลึกลับ วีระยังคงนั่งลงกับมือถือหัว เขาไม่ได้ตระหนักถึงการมีคู่ของตาที่ได้รับการดูจากระยะไกล จนกระทั่งตบไหล่ด้วยความประหลาดใจ. "Kyaa!" ตะโกนกลัววีระ. "เฮ้สาวอะไรขึ้น?" ถาม Ardi กับรูปลักษณ์ของสงสัย. "Ardi คุณประหลาดใจ ฉันคิดว่า you- "วีระแขวนคำพูดของเขาทำให้อยากรู้อยากเห็นมากขึ้น Ardi. "ใคร? คุณคิดว่าฉัน? คุณทำดีต่อสุขภาพ Ra? ดูเหมือนว่าคุณป่วย "กล่าวว่า Ardi ในขณะที่เขากดหลังมือของเขาที่จะวีระหน้าผากของเขา. "ผมโอเค." วีระปล่อยลงบนหน้าผากของเขาสัมผัสมัน. วีระบรรจุถุงของเขาและหายไป Ardi จ้องมองที่แปลกที่เพื่อนของเขา เขารู้สึกว่ามีบางอย่างซ่อนวีระ ทัศนคติวีระเปลี่ยนแปลงตั้งแต่เขากลับมาจากทะเลสาบ. ชนะวีระฟุตรวดเร็วและดวงตาของเขากำลังจดจ่ออยู่กับหน้าจอโทรศัพท์มือถือของเธอที่ทำให้ดูถนนในด้านหน้าของเขา จนในที่สุดเขาล้มลงเพราะมีคนชนเข้ากับเขาและกลับออกไป. วีระยังคงอยู่ในตำแหน่งที่ลดลง เขาไม่สนใจที่ตีเขาเป็นเพียงการมองหาโทรศัพท์มือถือที่กระเด็นอยู่ที่ไหนสักแห่ง ดวงตาของเขามองไปรอบ ๆ สำหรับโทรศัพท์มือถือของเขา จนในที่สุดเขาพบว่ามัน วีระคว้ากระเป๋าของเธอนอนอยู่บนพื้น เขาขมวดคิ้วเป็นตาของเขาเปิดที่จะหากระเป๋าถือของเธอ เขาจ้องมองไปรอบ ๆ แต่คนที่ผ่านไปมาไม่ได้จริงๆฟัง. "ใครเปิดกระเป๋าของฉัน? อาดีอาจจะเพราะฉันรีบ ประมาทเอ้อระเหย โอ้พระเจ้า ... "เขากล่าวว่าในขณะที่เดินกลับไปเรียน รุมิก็รอให้เขาในวันสุดท้าย. สองเดือนผ่านไป วีระยังคงคิดเกี่ยวกับร่างของ Daru ทัศนคติแม้ในขณะที่มันทำให้รู้สึก Ardi ลืม. "Ra ผมต้องการที่จะพูดอะไรบางอย่าง" Ardi เปิดการสนทนาดังกล่าว. "คุยอยู่คนเดียว" วีระกล่าวว่ามีมุมมองที่ตรงไดอารี่. "ผมคิดว่าคุณมีการเปลี่ยนแปลง คุณเงียบมากและมักจะแยกตัวออก เร็ว ๆ นี้เราเรียนจบมหาวิทยาลัยและนักวิชาการที่เราเสร็จสิ่งที่คุณควรประพฤติเช่นนี้ในช่วงเวลาสุดท้ายของวิทยาลัยของเราหรือไม่ ที่จริงแล้วมันคืออะไร? ใครทำร้ายคุณ? บอกฉันวีระ สุจริตผมไม่สามารถยืนทัศนคติว่าเมื่อเร็ว ๆ นี้ "กล่าวว่าระยะเวลาใน Ardi. ช้าวีระไดอารี่ปิดและเอาหายใจลึก ๆ หายใจออกที่มีน้ำหนักก่อนที่จะตอบคำถามของเพื่อนของเขา. "Ardi, ฉันดี มีการเปลี่ยนแปลงอะไรฉัน ค่อนข้างเร็ว ๆ นี้ผมรู้สึกไม่สบายใจที่มีทัศนคติที่ตั้ง คุณทำให้ฉันไม่สบายใจ ไม่เป็นไร "วีระมองไปในสมุดบันทึกประจำวันซึ่งยังคงอยู่บนตักของเธอ. "ผมชอบเรื่องนี้เพราะผมรักคุณรา ดังกล่าวเป็นข้อความปลายแม่ของฉันต้องดูแลคุณ "Ardi กล่าว. วีระเพียงแค่ส่ายหัวของเธอและรีบออกไป แต่ดึงบนแขนของเขาทำให้เขาหยุดเดิน. "อะไร?" "คุณได้เปลี่ยนจริงๆ" "แค่บอกว่าสิ่งที่ต้องการที่ Di. พอ! " "โอ้สิ่งที่เป็นเช่นนี้เพราะคนที่ช่วยคุณในทะเลสาบในเวลานั้นหรือไม่ เพราะตั้งแต่นั้นคุณเปลี่ยนการเปลี่ยนแปลงมากขึ้น วีระบอก! " "Ardi พอเพื่อให้คุณมีพฤติกรรมเช่นนี้ ใครก็ตามที่คิดว่ามันไม่ได้เกี่ยวกับคุณ คุณเพื่อนที่ดีที่สุดของฉันคุณจะต้องดูแลผม แต่ไม่ได้ระบุในชีวิตของฉัน และค่อนข้างไม่ได้ผลักดันให้ฉัน! " "ผมก็ไม่ได้ต้องการให้คุณได้รับบาดเจ็บ" "คืออะไร? ไม่อยากให้ฉันได้รับบาดเจ็บ? มันเป็นเพราะทัศนคติที่ฉันเจ็บเช่นนี้ จนกว่าจะไม่มีคนที่จะเข้ามาใกล้ฉันเพราะคุณเสมอป้องกันไม่ให้มัน Come on! " วีระลบออก แต่ Ardi ดึงกักตัวบังคับจนกว่าวีระรู้สึกเจ็บปวด คู่ของตาที่ได้รับการเฝ้าดูพวกเขาจ้องมองเพื่อให้อย่างรวดเร็ว แต่มันไม่ได้ย้ายไปยังตา เจ้าของตาที่ยังคงอยู่ในสถานที่หลบซ่อนตัวอยู่. "เพราะผมรักคุณ ... " Ardi memekakan วีระหู. กล่าวว่าวีระเงียบ พวกเขา terkulum อยู่ในความเงียบ ไม่มีใครสามารถที่จะกลับมากล่าวว่า และวีระกลับพยายามที่จะไป แต่ Ardi ให้เขา จนในที่สุด Ardi วีระปล่อย. "ฉันขอโทษ Ardi" วีระก่อนที่จะส่งผ่านจาก Ardi Ardi จ้องที่วีระ การเดินทางของวีระให้คำตอบที่เขาให้การปฏิเสธที่จะ Ardi Ardi กลืนกินแผลเจ็บปวดมาก ความรักของเธอมานานหลายปีโดยเก็บไว้ terlibas วีระทัศนคติที่ไม่สามารถยอมรับได้ วีระจริงอันโหดร้ายที่ไม่เคยใส่หัวใจของเธอ. "รอคุณกำลังจะไปคุกเข่ากับผม และขอให้ฉัน "Ardi เสียงพยาบาท. กล่าวว่าวีระเร่งก้าวของเขาจนกว่าเขาจะหยุดที่ห้องสมุดมหาวิทยาลัย เขานั่งอยู่ที่มุมในห้องสมุด อีกครั้งที่เขาโค้งคำนับเช่นถ้าภาระมากมายที่เขาทน. ค่อยๆใช้นิ้วมือของเธอไดอารี่ ตัวอักษรที่หลุดออกมาจากกระเป๋าของเธอ วีระทันทีหยิบจดหมายและอ่านมัน. "26 มิถุนายน? หมายความว่าจดหมายฉบับนี้มีอยู่แล้วในกระเป๋าของฉันเป็นเวลาสองเดือน "กระซิบวีระในตับช้าเขาเปิดตัวอักษรและอ่านมัน. "สวัสดี คุณเป็นอย่างไร? ไม่ต้องเศร้าและก็มักจะคิดฝัน ผมคิดว่าใบหน้าของคุณจะส่องแสงตอนนี้ดูสลัว คุณไม่เคยอยู่คนเดียวมีฉันอยู่เสมอกับคุณ ที่คุณไม่เคยรู้ว่ามีเป็นคู่ของตาอยู่เสมอดูคุณ และคุณไม่จำเป็นต้องรู้ว่าฉันเป็นใคร เพราะผมรู้ว่าจากช่วงเวลาที่ผมมักจะอยู่ในใจ อาจจะมีเวลาสำหรับผมชื่อตราตรึงในหัวใจของคุณ. ค่ำนับถือโอสาวเศร้าตา. "เห็นได้ชัดวีระอ่านเนื้อหาของจดหมาย. หลายครั้งที่เขาถูกโยนและเปลี่ยนตัวอักษรค้นหาชื่อของผู้ส่ง แต่ไม่มีชื่อและสัญญาณที่นำไปสู่ตัวตนของผู้ส่ง สำหรับช่วงเวลาที่เขาคิดว่า เขาเดาตัวอักษรของ Ardi จนในที่สุดเขา guessed มันแข็ง เขาบีบตัวอักษรและโยนมันในจุดที่









































































































การแปล กรุณารอสักครู่..
 
ภาษาอื่น ๆ
การสนับสนุนเครื่องมือแปลภาษา: กรีก, กันนาดา, กาลิเชียน, คลิงออน, คอร์สิกา, คาซัค, คาตาลัน, คินยารวันดา, คีร์กิซ, คุชราต, จอร์เจีย, จีน, จีนดั้งเดิม, ชวา, ชิเชวา, ซามัว, ซีบัวโน, ซุนดา, ซูลู, ญี่ปุ่น, ดัตช์, ตรวจหาภาษา, ตุรกี, ทมิฬ, ทาจิก, ทาทาร์, นอร์เวย์, บอสเนีย, บัลแกเรีย, บาสก์, ปัญจาป, ฝรั่งเศส, พาชตู, ฟริเชียน, ฟินแลนด์, ฟิลิปปินส์, ภาษาอินโดนีเซี, มองโกเลีย, มัลทีส, มาซีโดเนีย, มาราฐี, มาลากาซี, มาลายาลัม, มาเลย์, ม้ง, ยิดดิช, ยูเครน, รัสเซีย, ละติน, ลักเซมเบิร์ก, ลัตเวีย, ลาว, ลิทัวเนีย, สวาฮิลี, สวีเดน, สิงหล, สินธี, สเปน, สโลวัก, สโลวีเนีย, อังกฤษ, อัมฮาริก, อาร์เซอร์ไบจัน, อาร์เมเนีย, อาหรับ, อิกโบ, อิตาลี, อุยกูร์, อุสเบกิสถาน, อูรดู, ฮังการี, ฮัวซา, ฮาวาย, ฮินดี, ฮีบรู, เกลิกสกอต, เกาหลี, เขมร, เคิร์ด, เช็ก, เซอร์เบียน, เซโซโท, เดนมาร์ก, เตลูกู, เติร์กเมน, เนปาล, เบงกอล, เบลารุส, เปอร์เซีย, เมารี, เมียนมา (พม่า), เยอรมัน, เวลส์, เวียดนาม, เอสเปอแรนโต, เอสโทเนีย, เฮติครีโอล, แอฟริกา, แอลเบเนีย, โคซา, โครเอเชีย, โชนา, โซมาลี, โปรตุเกส, โปแลนด์, โยรูบา, โรมาเนีย, โอเดีย (โอริยา), ไทย, ไอซ์แลนด์, ไอร์แลนด์, การแปลภาษา.

Copyright ©2026 I Love Translation. All reserved.

E-mail: