Indo masih murka. Hampir tumbang tubuhnya lantaran tak dapat memendam dendam. Ia kehilangan anaknya. Semalam, tanpa ada yang tahu, ambemu, Runduma—membawa mayatku yang hanya tulang berbalut belulang. Ia menjualnya seharga ratusan juta rupiah kepada turis yang kemarin ia temani. Sekeras mungkin kuteriaki kau yang masih bersimpuh di bilikku yang kini kosong. Dari sini, antara surga dan passiliran arwahku tergantung tak jelas. Sebab tubuhku tak lagi menyatu dengan Indo. Aku mencintaimu, Runduma. Kuyakin kau tak mendengarnya.